SUMUT, RIENEWS.CO.ID – Akhir-akhir ini Citayam Fashion Week (CFW) menjadi pusat perhatian dan sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Citayam Fashion Week adalah suatu aksi peragaan busana di Zebra Cross dikawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Sudirman adalah sebuah kawasan elit dan bisnis yang terdiri dari kondominium, gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, dan bisnis yang didukung oleh sarana prasarana yang terintegrasi. Kawasan ini kerap dikenal dengan sebutan SCBD atau Sudirman Central Business District.
Dimedia sosial muncul plesetan dan pergeseran terhadap akronim SCBD. SCBD tidak lagi dikenal dengan Sudirman Central Business District tapi diplesetkan menjadi Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok. Ikhwal ini muncul karena invasi remaja-remaja dari kota penyangga ibukota seperti Citayam, Bojonggede, Depok ke kawasan Sudirman untuk aksi dalam peragaan busana atau fashion show dan meluapkan ekspresi di jalanan.
Fenoma CFW ini bukan hanya terpusat di kawasan jakarta tapi sudah menyebar kesuluruh pelosok negeri. Faktor kemudahan dalam era digital sangat berperan penting dalam hal ini. Beberapa kota besar seperti medan, malang, bandung, dan lainnya. Bahkan media asing sampai ikut membahas fenomena ini.
Fenomena CFW bukanlah barang baru di Indonesia. Pada era 80-90an sempat muncul fenomena yang sama. Kawasan Blok M menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda dalam meluapkan ekpresinya. Mereka saling adu gaya busana dan melakukan gerakan-gerakan breakdance. Diluar negeri, fenomena ini dulunya juga terjadi seperti tren harajuku di stasiun Harajuku Jepang dan budaya hip hop Amerika.
Kehadiran CFW diruang publik tak lepas dari kritikan. Stigma norak dan kampungan kerap disematkan kepada anak-anak muda yang memanfaatkan ruang publik tersebut untuk meluapkan eksrepsinya. Tumpukan sampah makanan, minuman, puntung rokok, dan gerombolan anak-anak muda dianggap mengganggu ketertiban umum. Namun lambat laun fenoma ini justru dilirik oleh pejabat-pejabat negara dan pelaku industri entertaint. Bahkan belakangan influencer-influencer ada yang sudah mendaftarkan brand CFW.
Sisi positif dari hadirnya CFW adalah kehadiran ruang publik dianggap suatu tempat yang nyaman dan mudah untuk melahirkan kreativitas anak muda. Faktor kemudahan dalam transportasi juga menjadikan kawasan SCBD tersebut bukan lagi menjadi pusat bisnis. Orang-orang dari kota penyangga ibu kota sudah mudah dalam akses transportasi. Kehadiran ruang publik yang nyaman membuat pergeseran dalam budaya peragaan busana. Gedung bertingkat, ruangan berkelas, kemewahan tidak lagi menjadi syarat untuk anak-anak muda mengembangkan kreativitasnya dalam peragaan busana.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Derajat Sulistyo Widhyarto menilai, CFW ini bagian pembentukan budaya baru yang dilakukan anak muda, sehingga perlu diapresiasi. Salah satu karakter kaum muda pencipta budaya dan kebudayaan youth culture.
Anak-anak muda yang melakukan peragaan busana umumnya berasal dari kota-kota penyangga Jakarta. Mereka juga berasal dari keluarga menengah ke bawah. Hal ini menunjukkan seakan-akan melawan arus fenomena budaya konsumerisme dan pamer kemewahan pegiat medsos dan influencer. Anak-muda CFW menggunakan pakaian pinjaman atau membeli dengan harga murah. Yang mana ini bertolak belakang dengan peragaan busana pada umumnya.
Peragaan busana jalanan ala CFW harus bisa berkembang lebih baik lagi. Jika kita berkaca pada lahirnya budaya Hip Hop Amerika, meskipun awalnya dianggap negatif dan meresahkan lingkungan tetapi seni jalanan dengan elemen musik, fashion, dan breakdance berkembang menjadi industri nasional yang menghasilkan pundi-pundi uang.
Fenomena CFW butuh proses dan jalan panjang agar menjadi subkultur yang berpengaruh di panggung dunia. Dukungan pemerintah dalam memfasilitasi kreativitas di berbagai ruang publik sangat diperlukan. Bisa jadi, ini menjadi magnet yang melahirkan berbagai subkultur baru sehingga membuat Jakarta bahkan Indonesia semakin berwarna dan menjadi kiblat busana.
Mus’ab, HMI CABANG MEDAN

