Pemimpin Yang Dewasa vs Pemimpin Cèmèn

Oleh : Ustadz Ahmad Hadian Kardiadinata, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara

“Setiap orang bisa jadi pemimpin namun tidak setiap pemimpin memiliki jiwa kepemimpinan”.
Karena faktamya memamg sosok pemimpin lahir dari berbagai cara yang berbeda : ada yang terpilih jadi pemimpin karena Kualitas (mutu), Kapabilitas (kemampuan), Kapasitas (keluasan wawasan dan pengalaman), Integritas (kebaikan sikapnya) dan Maturitas (kedewasaan pribadinya). Atau ada juga yang dipilih hanya karena Isi Tas (uangnya) tanpa punya kualitas, kapabilitas, kapasitas, integritas dan maturitas.

Nah dari dua cara memilih pemimpin diatas akan menghasilkan dua model pemimpin yang berbeda.

Model yang pertama biasanya akan menghasilkan pemimpin yang memiliki sifat-sifat negarawan. Maka saat ia menang, ia akan merangkul pihak yang tidak mendukungnya saat pemilihan. Bagi nya proses pemilihan hanyalah cara yang tidak boleh melahirkan musuh. Maka biasanya ia kemudian akan bisa menjadi pemimpin yang lebih besar karena diakui kepemimpinannya.

Namun pemimpin yang dipilih hanya karena uangnya semata, sedangkan ia lemah dalam kemampuan dan kecakapan memimpin serta lemah karakter kepemimpinan nya, biasanya setelah menang ia akan memelihara GAP (sekat-sekat/ pemisahan) antara pendukung dan bukan pendukung. Akhirnya ia akan hanya berpihak pada para pendukungnya saja tanpa mau mengembangkan dukungan. Dia tidak paham bahwa setelah ia jadi pemimpin maka ia harusnya menjadi pemimpin / pelayan bagi semua pihak.
Inilah Pemimpin Cèmèn.
Semoga negeri ini dijauhkan dari kepemimpinan yang seperti itu. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!