Medan, RIENEWS.ID – Maraknya predator anak saat ini di Indonesia termasuk di pondok pesantren (ponpes) membuat geram anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Ahmad Hadian Kardiadinata.
“Saya sangat geram dan sangat prihatin hari ini mendapat kabar ada kasus pencabulan sejenis lagi di sebuah Ponpes di Asahan”, tandas Hadian menanggapi kejahatan seksual terhadap anak, Sabtu (30/7/22).
Hadian mengingatkan lembaga pendidikan terlebih pondok pesantren seharusnya menjadi pengayoman bagi anak-anak bangsa.
“Orangtua sudah berharap agar anak-anaknya terhindar dari lingkungan yang buruk, malah jatuh ke pelukan para predator keparat seperti itu”, ketus Sekretaris Fraksi PKS DPRD Sumatera Utara ini.
Terkait banyaknya kejahatan seksual yang menimpa anak di lembaga pendidikan seperti pesantren, Hadian menyampaikan 5 hal yang harus dicermati bersama.
“Pertama. Bagaimanapun, saya meminta masyarakat arif dalam menyikapi hal ini, mohon tidak me-generalisir pondok pesantren sebab ini hanya kasus dan oknum. Masyarakat jangan hilang kepercayaan terhadap pesantren. Saya yakin pesantren dan sekolah, apapun agama nya tidak ada yang mengajarkan kebiadaban seperti ini. Insya Allah masih banyak pesantren dan sekolah agama yang baik dan benar”, sebutnya.
Selanjutnya Hadian menyampaikan harapan agar kejadian-kejadian seperti ini tidak terus terulang maka APH (Aparat Penegak Hukum) harus tegas menjatuhkan hukuman seberat berat nya kepada pelaku kejahatan ini, jika perlu kasih hukuman KEBIRI. Kejahatan seksual di lembaga pendidikan mestinya mendapat hukuman lebih berat daripada untuk kasus yang sama di locus yang berbeda. Sebab hakikatnya pelaku telah melakukan dua kejahatan, pertama kejahatan seksual itu sendiri dan kedua mencoreng dan merusak nama baik lembaga pendidikan sehingga rakyat hilang kepercayaan.
Kepada Pemerintah, Hadian minta harus terus mengawasi dan melakukan monitoring dan evaluasi bagi setiap lembaga pendidikan, apapun namanya. Kebaikan sebuah lembaga pendidikan itu sangat tergantung pada kualitas guru-guru nya. Jika gurunya baik maka akan baik semuanya. Jika gurunya bobrok maka semuanya akan bobrok. “Oleh karena nya saya ingatkan kepada semua pengelola lembaga pendidikan dan pemerintah bahwa pembinaan guru menjadi sangat-sangat krusial”, tegasnya.
Masih menurut Hadian, Pemerintah harus melakukan pembinaan terhadap guru secara berkala. Sebab guru juga manusia yang tetap punya kewajiban belajar dan mendapat pendidikan seumur hidupnya. Bukan setelah jadi guru lantas tak perlu lagi belajar, ini prinsip yang sangat salah. Jika menemukan gejala nyeleneh dari salah seorang gurunya. Pihak pengelola wajib segera enyahkan sifat tidak baik dari lingkungan sekolah.
“Untuk apa penyakit dipelihara. Masih banyak guru yang baik dan benar yang siap mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan”, ujar Hadian yang juga praktisi Pendidikan.
Sedangkan terhadap para orangtua diminta Hadian agar cermat dan selektif dalam memilih sekolah. Jangan hanya karena mewah atau karena murah, namun perhatikan sistem pendidikan yg dijalankan dan kenali kredibilitas penyelenggaranya. “Pilih saja sekolah yang normal jangan yang aneh-aneh (misalnya mengajarkan ilmu-ilmu supra natural / meta fisika yang dalam mengajarkannya harus pakai ritual-ritual khusus. Itu rentan penyimpangan).
Hadian juga minta agar waspada juga dangan ajaran menyimpang misalnya ada yang meyakini bahwa hubungan seksual bisa dilakukan setelah laki-laki dan perempuan sepakat menikah sementara waktu tanpa wali dan saksi. Tidak ada yang begitu dalam ajaran Islam. Makanya korbannya banyak, dan kejahatannya berulang sampai ada yang hamil. Kalau mereka faham bahwa itu penyimpangan tak akan terjadi yang seperti itu.
Ahmad Hadian yang juga Konsultan Kepribadian minta para orang tua cermat dalam memberi pemahaman kepada anak-anak yang berada di Ponpes ataupun sekolah biasa bahwa mereka harus berani bicara dan berani menolak jika ada indikasi-indikasi aneh dalam lingkungan sekolah/ ponpes. “Segera laporkan ke orangtua atau guru yang dipercaya”, tutup politisi PKS ini. (ps)

