Soal 400 Tim Bayangan Bentukan Mendikbudristek, UHa :  Untuk Apa ?

Medan, RIENEWS.ID – Kebijakan pemerintah pusat melalui Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Riset Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim yang mempekerjakan 400 orang khusus sebagai Tim Bayangan disoal Ustadz Ahmad Hadian Kardiadinata (UHa), anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi PKS, Rabu (28/9/22).

Dikatakan UHa, berdasarkan informasi beredar, tim bayangan besutan Nadiem bertugas untuk program-program IT (Information Technology) di bidang kependidikan dan mereka dibiayai oleh APBN yang tentu tidak kecil nilainya.

“Untuk apa harus ada tim bayangan? Apakah ASN-ASN di Kemendikbudristek itu tak ada yang tahu IT? Saya fikir tidak begitu. Setahu saya yang diangkat jadi ASN di Kemendikbud itu banyak juga yang berlatar belakang IT, jadi kerja mereka apa? Harusnya pak Menteri optimalkan kinerja, tugas dan fungsi aparat yg sudah ada”, sergah UHa yang juga Pembina Yayasan Pendidikan dan Pemerhati Pendidikan.

Menurut politisi PKS yang juga Guru Bersertifikat tersebut, bila memang ASN di Kemendikbudristek dirasa mereka belum menguasai sesuatu hal, seharusnya dilatih.

“Bukankah anggaran untuk  itu ada tersedia? Jangan pula program Tim Bayangan ini kelak hanya jadi produsen aplikasi-aplikasi dan sistem-sitem yang nantinya diwajibkan dilaksanakan di satuan pendidikan”, tandas wakil rakyat dari Dapil 5 Sumut ini.

Diingatkan UHa, Saat ini guru-guru kita sudah cukup dibikin bingung oleh berbagai sistem yang rumit. Gonta ganti kurikulum setiap tahun dan banyaknya aplikasi yang harus diisi oleh para guru saja telah membuat tugas utama mereka mengajar dan mendampingi anak didik jadi tersita.

Padahal- lanjut UHa-Kemendikbudristek itu mendapat porsi anggaran istimewa yakni sebesar 20% dari keseluruhan APBN. Tapi pasti bukan untuk hal-hal yang tidak prioritas seperti pembuatan 400 tim bayangan.

“Guru-guru honorer di daerah masih banyak yang terlantar, gaji mereka yang tak seberapa itu tersendat-sendat cairnya. Demikian pula bangunan sekolah di daerah masih banyak yang rusak parah. Juga belum semua kecamatan di Indonesia ini memiliki SMA dan SMK. Bahkan di daerah tertinggal, terluar dan terdepan masih banyak yang belum ada SD SMP-nya”, jelas UHa. (eps)

<span;>Bahkan menurut legislator yang juga pendakwah ini masih sangat banyak lagi permasalahan lainnya yang seharusnya menjadi prioritas Menteri Dikbudristek Nadiem Makarim. (eps)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!