Traffic Light di Tanjung Tiram Tak Kunjung Beroperasi. Ini Alasannya

RIENews.ID, Batu Bara – Sesak dan padat. Itulah kesan yang pertama kali melekat jika kita sedang melintasi jalanan di kawasan Tanjung Tiram. Menurut pantauan RIENews.ID pada Jumat lalu (25/03/2022), setidaknya ada 50 kendaraan yang melintas di kawasan simpang empat Tanjung Tiram dalam satu menit. Lebih parah lagi jika masuk pada jam-jam ramai aktifitas penduduk. Semisal pagi, ataupun sore hari, sekira pukul 16.00 WIB – 18.00 WIB. Boleh jadi, sedikitnya ada sekira 70 – 80 kendaraan yang lalu lalang di lokasi itu dalam satu menit.

Upaya untuk mengantisipasi kemacetan itu, nyatanya memang sudah dilakukan oleh pihak Pemkab setempat. Dinas Perhubungan Kabupaten Batu Bara, sebelumnya telah membangun 4 unit traffic light (sebutan umum: lampu lalu lintas/ lampu merah) sebagai alat bantu untuk mengatur pergerakan kendaraan disana. Sayangnya, meskipun telah selesai digarap pada 2021 lalu, alat pendukung yang punya pengaruh penting itu belum juga beroperasi hingga sekarang.

Beberapa tanggapan muncul dikalangan masyarakat. Abdullah, salah seorang warga setempat, mempertanyakan keberadaan fasilitas lalu lintas yang tak kunjung difungsikan itu. Ia beranggapan, pembangunan yang dilakukan oleh Pemkab setempat tidak direncanakan dengan matang. Ia bahkan mempermasalahkan soal titik pemasangan traffic light yang menurutnya telah mengalami banyak perubahan.

“Dulu, sebelum taman ini dibangun udah sempat digali tapaknya. Alhasil dipindah karena dibangun taman. Masa mau bangun fasilitas umum nggak tau kalau disitu ada mau dibangun yang lain. Nggak disesuaikan dulu” sebutnya.

Belum lagi soal kemampuan perangkat lampu yang digunakan. Ia menganggap, kualitas dari lampu traffic light tersebut nampak redup jika dilihat pada siang, khususnya pada saat cuaca terik matahari. Meskipun pada saat dilakukan penelusuran oleh awak media di lapangan, masih belum ada satu pun yang menyala sama sekali.

“Ada bang, yang dari arah Talawi kemari (Tanjung Tiram). Satu aja yang hidup. Mungkin masih di (uji) coba. Tapi kalau redup kayak gitu, mana lah nampak. Bisa-bisa tabrakan.” ungkapnya.

Tanggapan Dishub

Persoalan itu pun akhirnya ditanggapi oleh pihak Dinas Perhubungan setempat. Kepala Bidang Prasarana dan Keselamatan Dinas Perhubungan Kabupaten Batu Bara, Berlin Sovyan Hutabarat, menjelaskan sejumlah alasan terkait belum berjalannya pengoperasian traffic light yang ada di Tanjung Tiram. Diantaranya, menurut dia, tentang belum maksimalnya sosialisasi yang dilakukan Dishub kepada masyarakat setempat.

Kedepan, menurut Berlin, pihaknya akan segera melakukan sosialisasi guna memberikan edukasi kepada masyarakat yang ada di sekitar lokasi itu. Sosialisasi ini dianggapnya penting, mengingat, kehadiran Traffic Light merupakan hal baru bagi warga sekitar. Hal itu dilakukan, semata-mata agar pengoperasiannya tidak terkesan dilakukan secara tiba-tiba. Ia juga berharap, nantinya hal ini dapat meningkatkan rasa kepedulian warga dalam mematuhi peraturan lalu lintas. Paling tidak, kata dia, dapat menciptakan budaya malu saat melakukan pelanggaran aturan tata tertib lalu lintas.

“Harus ada sosialisasi. Kemudian kalau saya melihat begini, masyarakat kita ini, kan, identik kurang memahami masalah aturan lalulintas. Termasuk penggunaan helm, membaca rambu. Tapi yang lucunya, dan ini miris. Kalau saat pergi ke kota besar, dia (masyarakat) ngerti dan patuh. Kenapa di daerah sendiri malah tidak tertib. Kalau di kota-kota besar, nggak berani, kan, malu. Artinya pelan-pelan lah. Kalau saya sih membacanya, harus ada peningkatan SDM” tuturnya.

Namun, Ia mengaku, upaya melakukan sosialisasi itu pada praktiknya banyak mengalami banyak kendala di lapangan. Diantaranya kendala yang dimaksud, adalah mengenai keterbatasan anggaran yang ada di Dinas Perhubungan Batu Bara. Dishub, lanjutnya, saat ini hanya mampu membangun prasarana sesuai dengan anggaran yang ada.

“Sosialisasi itu penting. Tapi kadang-kadang, kan, karena mininmnya anggaran, kita itu hanya belanja modal saja dulu. Sosialisasinya menyusul ataupun bertahap. Pelan-pelan lah. Nanti kita akan lakukan simulasi dulu. Artinya apabila memang itu (traffic light) tidak maksimal, kita akan evaluasi dan cari solusi tambahan, misalnya bangun fly over. Jadi nggak stag dia” ungkap pria lulusan Sarjana Sains Terapan Transportasi itu.[red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!